Mendambakan penghasilan yang besar adalah harapan setiap orang yang ingin hidup makmur. Tentu setiap orang ingin berusaha sekuat tenaga supaya hidupnya menjadi lebih baik di kemudian hari. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak menginginkan kebaikan. Dan kebaikan itu banyak macamnya, termasuk kaya itu sendiri. Maka tidak heran bila setiap orang berlomba-lomba mendapatkan kekayaan, entah dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang terlarang alias haram. Yang penting kaya.
Ngomong-ngomong soal mencari kekayaan, atau mencari duit, maukah anda punya penghasilan 9 juta per bulan? Tentu Anda akan bertanya, "kerja apa dulu?" Saya punya cerita seputar cara untuk mencari kekayaan yang banyak dan cepat.
Sebagai pendatang di kota Solo tercinta, setiap ada waktu selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung ke kota kelahiran saya di sebuah kota kecil nan indah permai bin sejuk di lereng gunung Sumbing dan Sindoro, bernama Temanggung. Saya selalu menggunakan transportasi darat karena memang di Temanggung tidak ada Bandara dan pelabuhan. Yang biasa saya gunakan adalah transportasi bus antar kota melalui terminal Tirtonadi. Nah, cerita tentang jadi kaya secara cepat ada di sini.
Terminal Tirtonadi terbagi menjadi tiga bagian. Bagian barat, tengah dan timur. Bagian tengah untuk menurunkan penumpang, bagian barat parkir bus-bus jurusan barat, dan bagian timur untuk parkir bus-bus jurusan timur. Antar bagian terdapat sekat dengan loket peron. Setiap penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur harus melewati loket peron ini. Setiap orang dikenakan retribusi peron sebesar Rp. 200,- (tidak mahal kan?). Sayangnya, ketika saya membayar dengan uang seribu rupiah, sering hanya diberi uang kembali 500 rupiah saja. Saya selalu komplain karena memang tarifnya hanya 200 rupiah, mengapa uang kembali hanya 500 rupiah? Kalau sudah saya protes, si petugas langsung memberikan kekurangan uang kembalian saya. Itu pun saya masih ngotot minta karcis peronnya. Hehehe, keras kepala juga saya (biarin... lha wong hak saya kok).
Coba sekarang pembaca bayangkan. Misalkan ada 1000 penumpang yang masuk peron kemudian masing-masing membayar 1000 rupiah dan diberi uang kembalian 500 rupiah saja, maka berapa sisa uang kembalian yang terkumpul? Yuk hitung bersama. Rp. 300,- x 1000 penumpang = 300 ribu. Wow, banyak ya.. itu baru seribu penumpang. Padahal terminal Tirtonadi itu ramai dari pagi sampai malam. Kemungkinan bisa lebih dari 1000 orang masuk peron untuk setiap harinya. Bila si petugas 'istiqomah' tidak memberikan uang kembali yang 300 rupiah selama satu bulan, maka berapa 'penghasilan' si petugas peron? 300 ribu x 30 hari = 9 juta per bulan! Hebat kan? Belum lagi 'usaha sampingan' petugas peron dengan TIDAK memberikan karcis peron kepada passenger yang membayar peron. Ah...saya tidak tahu sih, model setoran ke atasan pakai sistem apa. Apa dihitung jumlah karcis yang tersobek, ataukah langsung pukul rata pokoknya harus setoran sekian ribu/juta per hari model tukang parkir Solo. Yang jelas, orang awam seperti saya ya tahunya ada 300 rupiah yang ngga dikembalikan ke saya. Dan saya memprediksikan kalau ada 1000 penumpang, dst.
Jadi, gampang ya cara mendapat penghasilan besar dengan cepat? Mau? Mau? Mau?
Untuk memperkaya wawasan, silahkan baca artikelnya pak wiranto. Silahkan membandingkan!
Ngomong-ngomong soal mencari kekayaan, atau mencari duit, maukah anda punya penghasilan 9 juta per bulan? Tentu Anda akan bertanya, "kerja apa dulu?" Saya punya cerita seputar cara untuk mencari kekayaan yang banyak dan cepat.
Sebagai pendatang di kota Solo tercinta, setiap ada waktu selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung ke kota kelahiran saya di sebuah kota kecil nan indah permai bin sejuk di lereng gunung Sumbing dan Sindoro, bernama Temanggung. Saya selalu menggunakan transportasi darat karena memang di Temanggung tidak ada Bandara dan pelabuhan. Yang biasa saya gunakan adalah transportasi bus antar kota melalui terminal Tirtonadi. Nah, cerita tentang jadi kaya secara cepat ada di sini.
Terminal Tirtonadi terbagi menjadi tiga bagian. Bagian barat, tengah dan timur. Bagian tengah untuk menurunkan penumpang, bagian barat parkir bus-bus jurusan barat, dan bagian timur untuk parkir bus-bus jurusan timur. Antar bagian terdapat sekat dengan loket peron. Setiap penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur harus melewati loket peron ini. Setiap orang dikenakan retribusi peron sebesar Rp. 200,- (tidak mahal kan?). Sayangnya, ketika saya membayar dengan uang seribu rupiah, sering hanya diberi uang kembali 500 rupiah saja. Saya selalu komplain karena memang tarifnya hanya 200 rupiah, mengapa uang kembali hanya 500 rupiah? Kalau sudah saya protes, si petugas langsung memberikan kekurangan uang kembalian saya. Itu pun saya masih ngotot minta karcis peronnya. Hehehe, keras kepala juga saya (biarin... lha wong hak saya kok).
Coba sekarang pembaca bayangkan. Misalkan ada 1000 penumpang yang masuk peron kemudian masing-masing membayar 1000 rupiah dan diberi uang kembalian 500 rupiah saja, maka berapa sisa uang kembalian yang terkumpul? Yuk hitung bersama. Rp. 300,- x 1000 penumpang = 300 ribu. Wow, banyak ya.. itu baru seribu penumpang. Padahal terminal Tirtonadi itu ramai dari pagi sampai malam. Kemungkinan bisa lebih dari 1000 orang masuk peron untuk setiap harinya. Bila si petugas 'istiqomah' tidak memberikan uang kembali yang 300 rupiah selama satu bulan, maka berapa 'penghasilan' si petugas peron? 300 ribu x 30 hari = 9 juta per bulan! Hebat kan? Belum lagi 'usaha sampingan' petugas peron dengan TIDAK memberikan karcis peron kepada passenger yang membayar peron. Ah...saya tidak tahu sih, model setoran ke atasan pakai sistem apa. Apa dihitung jumlah karcis yang tersobek, ataukah langsung pukul rata pokoknya harus setoran sekian ribu/juta per hari model tukang parkir Solo. Yang jelas, orang awam seperti saya ya tahunya ada 300 rupiah yang ngga dikembalikan ke saya. Dan saya memprediksikan kalau ada 1000 penumpang, dst.
Jadi, gampang ya cara mendapat penghasilan besar dengan cepat? Mau? Mau? Mau?
Untuk memperkaya wawasan, silahkan baca artikelnya pak wiranto. Silahkan membandingkan!
luar biasa mas Banu! -Reza
ReplyDeleteBenar, mas Reza. Hal tersebut memang di LUAR keBIASAan masyarakat kita. Tapi sekarang kok ya sudah membudaya?
ReplyDeletedimana-mana ada pungli, benar2 ekonomi biaya tinggi..
ReplyDeletesaya paling sebel sama pungli2...itu sama aja korupsi...sama saja merusak pilar-pilar ekonomi bangsa. Mau jadi bangsa yang seperti apa nantinya kita kalau pungli&korupsi meraja lela? Apa kata dunia?
ReplyDelete@Ala
ReplyDeleteTepat sekali mas Ala. Karena harus 'menghidupi' para pungliwan tersebut, barang2 kebutuhan pokok yang seharusnya murah jadi melambung tinggi.
@Afie
Saya juga sebel, dokter. Tapi ya bisanya cuma nagih hak kita saja kalo uang kembalinya tidak pas. Harusnya atasan mereka yang nggebrak perilaku bawahannya. Apa kata dunia? Tanyakan pada rumput yang bergoyang? :)
mau sih mau tapi tuh uang yah jelas haram emang kalau di Indonesia uang kayak gituan banyak sekali maka Indonesia gak barokah.
ReplyDelete